Guru Ideal Dalam Otakku

June 3, 2009 · Print This Article

aulisMemilki guru ideal pasti diinginkan setiap siswa, termasuk saya. Namun keidealan itu tidak serta merta bisa ditemukan pada setiap sosok guru karena berbagai hal yang parameternya antara siswa yang satu dengan yang lain tidak sama. Parameternya tergantung pada setiap siswa, tetapi pada dasarnya saya bisa menyimpulkan bahwa guru ideal adalah guru yang disukai muridnya. Yang perlu di perhatikan adalah yang disukai seorang siswa terhadap gurunya. Hal inilah yang sangat beraneka ragam. Ok, dibawah ini adalah obrolan opini yang saya tulis berdasarkan pengalaman dan beberapa cerita dari teman. Perlu saya sampaikan pada Ziggers bahawa obrolan opini ini tidak bermaksud menyudutkan, menyanjung siapa pun, bahkan membanding-bandingkan antara satu guru dengan yang lain. Hal ini lahir dari ketulusan hati yang saya rasakan selama menjalani proses belajar mengajar. Bagaimanakah guru ideal menurut saya dengan parameter yang saya anggap paling logis dan masuk akal.

Gelar sempurna dan ideal layaknya tak pantas diberikan pada seluruh makhluk di alam semesta beserta isinya ini, bahkan untuk seorang guru sekalipun. Hanya satu yang pantas menyandang gelar itu, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tapi, manusia berhak menilai setiap apa yang telah ia dapat dalam hidup ini. Hanya menilai setiap apa yang dianggapnya cocok dan nyaman, apalagi penilaian seorang siswa seperti saya. Maaf Bapak/Ibu Guru, ini sekedar opini, tanpa ada maksud apa-apa. Sebab menulis opini adalah media untuk menajamkan pikiran, tidak lebih.
Di Indonesia telah dicanangkan wajib belajar 9 tahun, sebagaimana yang diatur dalam UU dan peraturan pemerintah. Mestinya di imbangi juga dengan pencanangan guru ideal, baik secara materi ataupun kemapuan/skill. Jika tidak, sia-sia rasanya wajib belajar 12 tahun di laksanakan. Saat ini pemerintah mulai memperhatikan dengan adanya program sertifikasi. Pertanyaannya, apakah sertifikasi sudah menyelesaikan masalah. Bagaimana menciptkan guru ideal untuk generasi millennium. Selama hampir 11 tahun saya mengenyam pendidikan, saya menemukan banyak karakter guru, semua memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dalam waktu yang terbilang cukup lama itu, sulit rasanya menemukan sesosok pahlawan tanpa tanda jasa yang dapat melekat dalam hati sanubari. Namun berbeda, saat beranjak ke jenjang SMA saya menemukan sesosok pahlawan yang dapat memberi semangat baru dalam perjalanan menuntut ilmu. Mereka mampu memotivasi dan semangat bagi para siswa, memberi cahaya disetiap sel-sel otak yang kosong akan dengan ilmu pengetahuan. Itulah yang saya temukan di beberapa guru di sekolah ini
Seorang ahli bernama Gordon Stokes mengatakan “Delapan puluh persen kesulitan belajar berhubungan dengan stres. Singkirkan stres, maka Anda telah menyingkirkan berbagai kesulitan dalam belajar.” Pada awalnya hal itulah yang membuat banyak siswa, termasuk saya merasa malas belajar di sekolah ini. Apalagi pada materi baru, hal ini terlihat cukup rumit. Tetapi ada beberapa guru yang diawal pertemuan membukanya dengan dengan menceritakan hal-hal yang cukup menarik dan imajinatif, sehingga seluruh siswa dapat mengkhayal hal-hal yang menyenangkan dalam pelajaran yang ajarkan. Motivasi itulah yang ingin saya dapatkan dari seluruh guru, apapun itu pelajarannya, tentunya dengan cerita yang bisa memotivasi dan berhubungan dengan pelajaran yang saat itu akan diajarkan.
Saya lebih suka metode pembelajaran yang sederhana namun harus kreatif dan atraktif. Ada guru-guru yang mampu membius otak kami, sehingga kami mampu merespon pelajaran dengan baik. Kalau harus menggunakan motode anak TK, SD, dan itu manjur untuk kami, mengapa tidak.
Gaya santai, humoris dan menyenangkan adalah impian kami saat menerima pelajaran. Motode outbond pun bisa dipakai, sehingga bisa mempermudah, atau bisa menggunakan gambar-gambar, seperti yang sudah dilakukan oleh salah soerang Guru di sekolah ini. Hal itu ternyata tidak banyak menyulitkan banyak siswa, bahkan malah mempermudah siswa untuk cepat menghafal.
Bisa dibayangkan, jika setiap jam belajar berlangsung, beliau selalu memberikan berbagai pertanyaan. Pertanyaannya berupa gambar, lisan, ataupun gerak tubuh. Pertanyaan tersebut tidak hanya ditujukan oleh siswa-siswa tertentu, tapi dengan cara di drill pada semua siswa, tidak terkecuali. Itu menarik bagi saya. Ternyata teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Berarti motode semacam ini kami anggap sangat mujarab untuk kami.
Selain motode tersebut, Bapak/Ibu Guru bisa nilai plus pada setiap siswa yang berani menjawab pertanyaan. Semakin mendapat banyak nilai plus, guru bisa memberikan penghargaan atau hadiah. Merayakan dengan member hadiah adalah hal yang sangat menyenangkan bagi kami para siswa. Sebaliknya, guru harus berani memberikan hukuman yang tegas pada kami yang tidak mengerjakan anjuran/tugas.
Perlu ada upaya dan metode serta inovasi pembelajaran sehingga semua indra bekerja. Hal ini akan bisa mengurangi kejenuhan, apalagi ngantuk saat pelajaran. Kadang-kadang guru perlu menciptakan suasana tegang dan cemas pada diri siswa, dengan kuis, atau main tunjuk pada siswa.
Banyak cara yang dapat dilakukan seorang guru untuk para siswanya. Saya yakin guru-guru kami lebih berpengalaman dalam hal ini. Tapi inilah yang saya rasakan dan menjadi kerinduan kami. Untuk menjadi guru yang maju dan profesional, seperti yang saya ceritakan diatas. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi perlu membiasakan diri. Perlu saya tulis juga bahwa ada beberapa guru di SMAdaBO yang telah melakukan metode tersebut. Fakta itulah yang menjadi inspirasi saya menulis obrolan opini di ZZ ini.
Apa sebenarnya konsep yang bisa disimpulkan. Konsepnya adalah guru dapat menyenangkan siswanya melalui belajar. Hal ini seperti kata Peter Kline, seorang ilmuan, “Learning is most effective when it’s fun”. Selain itu, seorang guru harus sadar dan faham akan tugas-tugasnya sebagai pendidik. Sosok guru adalah sosok pahlawan dunia-akhirat yang harus mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan Tuhan. Satu hal lain yang sangat penting dan sering terlupakan adalah membuat portofolio, yang berhubungan dengan prestasinya maupun pengalamannya dalam menjalankan tugas. Ini sebagai bukti otentik, dan bahan cerita pada anak didik tahun berikutnya. Apa efeknya untuk siswa. Saya meyakini dengan cerita-cerita dan bukti otentik keberhasilan para guru, kami para siswa akan lebih tergerak dan bersemanagat. Minimal keberhasilan mereka bisa masuk dalam otak kami dan menjadi imajinasi, dan hasilnya adalah angan-angan positif sehingga lahirlah cita-cita. Kondisi ini bisa menjadi obsesi kumpulsif bagi kami untuk mewujudkannya.
Seorang guru tidak boleh memihak atau mendiskriminasikan salah seorang siswanya. Guru harus mampu bersikap adil dan bijaksana dalam menentukan penyelesaian, mampu mendorong siswa hingga menemukan jalan yang terang dalam menyelesaikan masalahnya. Sesuai dengan kata Doktrin Mazhab Konstruktivisme bahwa “Pengetahuan itu tidak dapat ditransfer sebagaimana air dari teko dituangkan ke cangkir. Pengetahuan harus dibangun sendiri oleh murid. Murid bukan cangkir, melainkan tanaman. Guru bukan teko, melainkan penyiram air yang membuat tanaman itu tumbuh dan berkembang”.

Ditulis Oleh:
Aulia Sabrina - Wartawan ZZ

Comments

3 Responses to “Guru Ideal Dalam Otakku”

  1. jaya mulya on March 3rd, 2010 8:59 pm

    Identifikasi mu baik mengenai guru yang ideal. namun apakah semua guru yang tidak disukai itu tidak baik, padahal sebenarnya banyak guru yang menurut anak didiknya tidak baik, dan tidak disenangi namun sebenarnya ia yang selalu memperhatikan anak didiknya yang suka bercanda dikelas ia bagaikan orang tua yang memarahi anaknya karena anaknya yang main di jurang dan ia takut anaknya masuk jurang sehingga selalu memarahi anaknya bagi anak yang tidak mengerti tentunua ia akan kecewa pada orang tuanya karena tidak tahunya anak akan tujuan anak orang tuanya begitu juga anak didik yang tidak tahu akan tujuan gurunya yang selalu memperhatikannya seakan dianggap yang paling disoroti padahal hal itu menunjukan sangangat besar akan kasih sayang guru

  2. Dhanasty on December 24th, 2009 8:45 am

    sip mb….menurutku guru ideal juga berpengaruh terhadap minat belajar siswa di dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar)….jika gurunya menyenangkan,so pasti membuat belajar kita nyaman..begitu sebaliknya…

  3. arief on June 4th, 2009 7:34 am

    @Aulia Sabrina: Udah tambah dewasa pemikirannya….
    mo jadi guru ???
    Selamat.

Got something to say?